BENCANA, BUKAN TUHAN MURKA Tuhan itu rahmat-Nya mengalahkan amarah-Nya. "Jangan melihat bencana yang datang beruntun sebagai bukti amarah Tuhan," tutur M. Quraish Shihab.
Bulan Ramadan adalah hari-hari tersibuk Prof Dr M Quraish Shihab. Permintaan dari berbagai pihak untuk berceramah datang silih berganti, hampir tidak menyisakan hari bagi ahli tafsir Al Quran itu untuk beristirahat.
"Saya sudah membatasi untuk memberi ceramah agama. Akan tetapi, sulit menghindari permintaan (berceramah) pada bulan Ramadan walaupun ada juga yang bisa terhindari," katanya.
Kompas beruntung mendapat kesempatan berbincang dengannya mengenai pandangan Al Quran tentang bencana, di sela waktunya yang padat. Ia baru saja usai memberi kuliah di lembaga yang ia pimpin, Pusat Studi Al-Quran (PSQ), Ciputat, Tangerang.
Di ruang kerjanya yang sejuk pada siang yang terik itu, Quraish menguraikan tiga kata yang digunakan Al Quran untuk menggambarkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Pertama, musibah, untuk sesuatu yang tidak menyenangkan akibat ulah manusia. Kedua, bala, berupa sesuatu yang datang langsung dari Tuhan tanpa keterlibatan manusia, kecuali menerimanya. Dengan menurunkan bala, Allah SWT menguji untuk menampakkan kualitas seseorang.
Al Quran mengisyaratkan, "tidak disentuh seseorang oleh musibah kecuali karena ulahnya sendiri". Di sisi lain ketika berbicara tentang bala, Al Quran menerangkan bahwa itu datangnya dari Allah SWT.
Ketiga, fitnah, yang dalam bahasa Al Quran berarti ujian atau siksaan. Allah SWT berfirman, berhati-hatilah terhadap fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang bersalah. "Ini berarti bencana itu datang dari perbuatan seseorang atau kelompok, tetapi dampaknya mengenai orang yang tidak bersalah," papar Quraish Shihab.
Ketiga hal itu, kata Quraish, hendaknya tidak membuat manusia berburuk sangka, baik terhadap manusia maupun kepada Tuhan.
Bagi mereka yang hanya berpikir tentang ’sekarang ’ dan ’di sini ’ menganggap suatu bencana tidak fair sebab juga mengenai orang yang tidak berdosa.
"Terhadap orang yang tidak bersalah dan terkena bencana itu, Tuhan menjadikan dia alat untuk mengingatkan orang lain. Ketika Allah SWT menjadikan seseorang sebagai alat atau sarana, tidak mungkin orang itu disia-siakan," paparnya.
Ia mengingatkan bahwa Tuhan itu rahmat-Nya mengalahkan amarah-Nya. "Jangan melihat bencana yang datang beruntun sebagai bukti amarah Tuhan," tuturnya.
Manusia tidak boleh mempersalahkan Tuhan karena Dia tidak pernah salah. "Jangan juga melemparkan kesalahan kepada orang-orang tertentu tanpa bukti yang jelas. Sebab, boleh jadi justru yang menuduh itu penyebabnya," kata Quraish.
Keteladanan pemimpin
Menurut Quraish, setiap sesuatu yang tidak menyenangkan bagi seseorang, masyarakat, atau suatu bangsa, langkah pertama yang harus dilakukan adalah introspeksi. Hal itu bisa dilakukan sebagai individu maupun secara kolektif sebagai bangsa.
Quraish tidak mengingkari bahwa banyak pelanggaran yang terjadi sebagai bangsa dan sebagai individu. Karena itu, introspeksi sangat diperlukan.
Supaya masyarakat melakukan introspeksi, menurut Quraish, perlu keteladanan seorang pemimpin. "Karena pemimpin punya pengaruh pada masyarakat, kita perlu mereka memberi teladan. Bukan hanya mengajak, tetapi benar-benar melakukan introspeksi," paparnya.
Quraish yakin, banyak musibah bisa dihindari apabila setiap orang melakukan introspeksi, kembali kepada Tuhan, mohon ampunan, dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. "Kalaupun kita jatuh dari lantai 10 sebuah gedung, mudah-mudahan kita jatuh di atas tumpukan jerami," ujarnya. (Nasru Alam Aziz) Sumber : Wawancara M. QUraish Shihab dengan Kompas (Senin, 16 Oktober 2006). |
Komentar
Posting Komentar