IDUL FITRI, moment mudik rohani









IDUL FITRI, MOMEN MUDIK ROHANI
Saat ’Idul Fitri, orang yang beriman mengalami ”mudik rohani” yang ditandai dengan terciptanya kesejukan, kehangatan, dan rasa damai di dalam hati. Kondisi ini juga biasanya dialami oleh orang-orang yang memiliki nilai taqwa.


Pada saat hari raya ‘Idul Fitri, jutaan umat Islam Indonesia merayakan pesta hari kemenangan. Seluruh lapisan masyarakat Islam bergembira seraya mengucapkan lafazh ritual yang sama: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Allah pemilik kebesaran dan kepada-Nya ditujukan segala pujian.



Baru saja kita menyelesaikan satu ujian berat, yaitu menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Makna dan tujuan puasa ialah untuk memperoleh derajat muttaqin. Tujuan ini dapat dicapai setelah memahami, mengamalkan, dan menghayati arti puasa. Memahami dan menghayati arti puasa memerlukan perhatian terhadap dua hal pokok menyangkut fungsi dan hakekat keberadaan manusia. Pertama, manusia sebagai khalifah, pengganti atau representatif Tuhan di bumi (inni ja’ilun fil ardli khalifah), dan kedua, manusia sebagai ’abid, atau hamba Tuhan yang setia (wama khahalaqtul jinna wal insa illa liya’budun).Manusia diciptakan Tuhan dari tanah, lalu ditiupkan roh kepadanya, kemudian diberikan potensi untuk mengembangkan diri sehingga mencapai tingkat yang memungkinkannya menjadi khalifah Tuhan. Tujuan kekhalifahan manusia tiada lain kecuali untuk memakmurkan bumi, sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Manusia dituntut menata dan mengembangkan seluruh isi bumi ini dengan konsep kasih sayang dan kedamaian, bukan sebaliknya, penuh keserakahan dan ketidakadilan.



Dengan berpuasa, manusia akan mengasah potensi dirinya untuk menjadi khalifah yang sukses di bumi dan sekaligus sebagai ’abid yang berkualitas muttaqin. Orang-orang yang berpuasa sebenarnya mengembangkan diri sesuai dengan rambu-rambu Tuhan, yaitu mencontoh dan menginternalisasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, sebagaimana sabda Nabi: "Bersifatlah kamu sebagaimana sifat-sifat Tuhan" (takhallaqu bi akhlaqillah). Al-Qur’an menyebutkan dalam Q.S.6:14, “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) dan Q.S.6:101, “lam takun lahu shahibah” (Tuhan tidak memiliki pasangan).



Bukankah dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh. Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas “insan kamil” (manusia paripurna), suatu kualitas spiritual yang paling didambakan setiap mukmin. Insan Kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita, sebagaimana dicontohkan oleh pribadi Rasulullah Saw.



Nama-nama indah Tuhan bukan hanya menunjukkan sifat-sifat Tuhan, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mencapai dan mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan menghubungkan dirinya dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan at-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga yang bersangkutan tetap mempunyai harapan dan tidak perlu kehilangan semangat hidup. Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan? Bukankah pada setiap surah dalam Al-Qur’an selalu diawali dengan Bismillah ar-rahman ar-rahim, yang intinya menonjolkan kemahapengasihan (rahmaniyyah) dan kemahapenyayangan (rahimiyyah) Tuhan? Ini semua mengisyaratkan bahwa sesunguhnya Allah Swt lebih tepat untuk dicintai daripada ditakuti.



Salah satu bentuk kemahapengasihan Tuhan ialah menganugerahkan bulan Ramadlan (secara harfiyah: penghancur, penghangus). Setelah 11 bulan lamanya kita terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan (power struggle). Diharapkan dengan amaliah Ramadlan yang baru saja kita lalui dapat mengembalikan kita ke jati diri yang sebenarnya, sehingga hari raya Idul Fitri kali ini, tidak hanya ditandai dengan mudiknya sejumlah warga ke kampung halaman, tetapi yang teramat penting ialah mudiknya seorang hamba ke kampung halamanrohaninya masing-masing. Memang demikianlah idealnya, bulan suci Ramadlan berfungsi ibarat oase di tengah padang pasir, memberikan kepuasan dan kesegaran kepada kafilah yang sedang berlalu. Saat ’Idul Fitri, orang yang beriman mengalami ”mudik rohani” yang ditandai dengan terciptanya kesejukan, kehangatan, dan rasa damai di dalam hati. Kondisi ini juga biasanya dialami oleh orang-orang yang memiliki nilai taqwa.



Kualitas muttaqin yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang menjalankan puasa secara ikhlas bukanlah janji sederhana. Kualitas muttaqin merupakan dambaan setiap orang. Selain akan dilihat sebagai rahmat oleh sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, yang bersangkutan juga akan mengalami pengalaman spiritual yang mengasyikkan.



Seorang yang berusaha untuk meneladani Tuhan dalam sifat-sifat-Nya, digambarkan oleh seorang filsuf Muslim Ibn Sina: "Ia akan selalu gembira dan banyak tersenyum, karena hatinya telah dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenal Tuhannya. Di mana-mana ia hanya melihat hanya satu: melihat kebenaran, melihat Yang Maha Benar lagi Maha Suci Itu. Semua dianggapnya sama, karena memang semuanya sama: semua makhluk Tuhan wajar mendapat rahmat, baik yang taat maupun yang bergeliman dosa. Ia tidak suka mengintip kelemahan orang lain dan tidak pula mencari-cari kelemahan orang. Ia tidak akan marah atau tersinggung, walaupun berhadapan dengan sesuatu yang tidak mengenakkan, karena jiwanya selalu diliputi rahmat kasih sayang, dan karena ia memandang rahasia Tuhan (as-sirr) terbentang dalam kodrat-Nya. Apabila mengajak kepada kebaikan maka ia akan mengajak dengan lemah lembut, tidak dengan kekerasan, tidak pula dengan kecaman atau kritik. Ia akan selalu menjadi dermawan; karena cintanya terhadap materi tidak lagi dominan. Ia selalu besifat pemaaf karena dadanya sedemikian lapang, mampu menampung segala kesalahan orang. Ia tidak akan menjadi pendendam karena seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Maha Esa".



Hasan al-Bashri, menggambarkan orang-orang yang meneladani Tuhan sehingga mencapai derajat muttaqin yaitu: "Orang itu tangguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, tekun menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana. Wibawanya tampak di muka umum, ekspresi syukurnya nampak di kala mendapatkan keberuntungan, qana’ah-nya lebih menonjol, tidak konsumtif sekalipun kaya, tidak menuntut sesuatu yang bukan haknya dan tidak pula menahan hak orang lain. Kalu ditegur ia menyesal dan berterima kasih. Kalau bersalah ia segera istighfar. Jika dimaki ia tersenyum sambil berkata: ’Jika makian anda benar, maka aku bermohon semoga Tuhan mengampuniku, dan jika makian anda keliru, maka aku bermohon semoga Tuhan mengampunimu".



Begitulah adanya, orang yang mengalami ”mudik rohani” yang ditandai dengan terciptanya kesejukan, kehangatan, dan rasa damai di dalam hati, pada hakikatnya sedang merasakan pengalaman orang-orang yang bertaqwa. [ ]



Sumber :
Ditulis sendiri oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.







Komentar

  1. Subhanallah...menjadi "muttaqin"..adalah "goal" yang sebenarnya dari pembelajaran Shaum Ramadhan..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERINGATAN TAHUN BARU 1436 H LEMDIK AL-IKHLASH LUMAJANG

KABINET PERKONCOAN

SMILE GARDEN