Qunatum Genius (Tips :2)



Tips #2: Quantum Genius
Ciptakan hubungan dengan pengetahuan sebelumnya

Belajar terbaik adalah dengan menghubungkan informasi yang belum diketahui dengan sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh pembelajar.

Berdasarkan penelitian neuroscience, bahwa memori lebih mudah mengingat informasi baru yang mengandung elemen yang telah diketahui sebelumnya, jika dibandingkan dengan sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan. Sebagai contoh, jika seorang siswa tidak memiliki pengetahuan tentang fisika dasar, pengajaran yang diberikan oleh guru fisika yang antusias mengenai kekuatan fisika kuantum, akan membuat anak tersebut merasa tersesat di dalam hutan belantara. Begitu seorang pembelajar tersesat, dengan cara tertentu otak akan berhenti belajar. Wah payah juga ya.

Namun apa yang seringkali terjadi di ruang kelas?
“Anak-anak, materi ini sangat baru bagi kalian, yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Perhatikan sungguh-sungguh, ibu akan jelaskan satu persatu.”

Jangan heran jika dengan pengajaran seperti ini, siswa akan melipatgandakan konsentrasinya, karena dia sedang berada di sebuah hutan yang tidak dia kenal. Dan cara seperti ini menguras energi dan melelahkan otak siswa. Setelah pelajaran pun sering kali siswa masih bingung dan tidak mengerti apa yang baru saja dia peroleh. Hal ini berakibat menimbulkan ketidakpercayaan diri siswa terhadap pelajaran tersebut.

Oleh karena itu jika guru ingin siswa dapat memahami apa yang diterangkannya, ia seharusnya mengupayakan agar otak siswa mendasarkan pemikiran pada apa yang sudah diketahui sebelumnya. Itulah sebabnya banyak metode QG yang menggunakan benda, gerakan, pelajaran lalu, contoh nyata yang dapat dijadikan alat atau petunjuk yang sudah dikenali oleh otak siswa.

Berikut sekedar contoh nyata, libur lebaran minggu lalu, seorang rekan lama saya yang di Jakarta, berkunjung ke Surabaya. Sebut saja namanya Ronald. Dia ingin diantar jalan-jalan. Lantas kami sepakat bertemu di Royal Plaza. Rumahnya di Jalan Ikan Mungsing daerah Perak, Surabaya Utara. Dia nggak tahu jalan, hanya jalan ke arah bandara yang dia ingat. Bagaimana biasanya cara kita memberi petunjuk? Saya lantas tanya ke teman saya tempat-tempat di sepanjang jalan yang dia masih ingat. Lalu saya memberi petunjuk: Ingat Tugu Pahlawan khan, lurus ke arah jalan Tunjungan, nanti bertemu Grahadi, ke kanan bertemu Bambu Runcing, lurus ada Mc Donald Raya Darmo, lurus lagi Jembatan layang wonokromo. Nah di sebelah kanan sudah terlihat Royal Plaza.

Pada saat kita menerima informasi baru, apa sih yang terjadi pada otak kita? Badan sel dari sebuah neuron yang bercabang-cabang seperti kumparan yang disebut dendrit dan tangkai panjang disebut axon. Pada saat seseorang belajar, axon dari sebuah sel menjangkau keluar untuk berkoneksi dengan dendrit pada sel yang lainnya. Koneksi itu terbentuk ketika pengalaman yang dialami bersifat baru. Cukup sederhana, jika informasinya baru, maka hanya akan terjadi koneksi neuron yang lemah (jika ada). Namun jika informasinya sudah dikenal, koneksi neuron yang sudah ada menjadi semakin kuat dan menghasilkan pembelajaran. Bagaimana caranya mengaitkan informasi baru dengan informasi sebelumnya? Bisa melalui: diskusi, melalui film best seller, contoh nyata, pengalaman beraktivitas, studi kasus dll.

Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah: Semakin besar hubungan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya pengalaman “wow” dan “ah-ha” dalam diri pembelajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERINGATAN TAHUN BARU 1436 H LEMDIK AL-IKHLASH LUMAJANG

KABINET PERKONCOAN

SMILE GARDEN