KOMUNIKASI yang EFEKTIF dan MENCERDASKAN EMOSI ANAK
Dangkalnya relasi antara orang tua dan anak menyebabkan anak-anak melakukan kompensasi-kompensasi di luar rumah, benang merah inilah yang selalu muncul berulang dalam setiap perkelahian pelajar. Lebih lanjut Bapak Reza Indragiri seorang psikolog forensic menyebut “killing for fun..” menanggapi kasus tawuran pelajar yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.
Kasus kekerasan yang terjadi pada pelajar mulai usia SD sampai mahasiswa dan tawuran yang terjadi pada usia remaja sampai dewasa hingga menyebabkab jatuhnya korban jiwa, merupakan fenomena sosial yang mencengangkan. Tidak mengherankan jika para orang tua mulai mengkwatirkan keamanan anak-anak ketika berangkat sekolah. Dari penyelidikan kasus yang terus menerus terjadi belakangan ini menghasilkan temuan yang selalu muncul dan merupakan benang merah dari kasus serupa sebelumnya yaitu faktor relasi/hubungan kedekatan antara orang tua dan anak yang semakin dangkal, yang disebabkan kurang terbangunnya komunikasi yang baik/harmonis dalam keluarga.
Komunikasi adalah bagian penting dari cara kita mempengaruhi
orang lain untuk memperoleh apa yang kita inginkan , yaitu merupakan sebuah proses yang digunakan manusia untuk
mencari kesamaan arti melalui pengiriman pesan secara simbolik (gerak badan,
suara, huruf, angka dan kata-kata), seorang pakar komunikasi menyebutkan :
“Dari semua pengetahuan dan ketrampilan yang anda miliki, pengetahuan dan ketrampilan komunikasi termasuk di antara yang paling penting dan berguna. Karena ruang lingkup komunikasi meliputi komunkasi dengan diri sendiri, dengan orang lain, komunikasi kelompok dan komunikasi yang lain” .J.A Devito,1997.
Perkembangan emosi seorang anak dapat maju atau mundur sangat ditentukan oleh komunikasi. Sebab komunikasi yang efektif berdampak menyenangkan emosi dan menyebarkan energi positif, dengan demikian otak akan mampu menyerap lebih banyak informasi , dan pada akhirnya mampu membangun kepribadian positif
“Dari semua pengetahuan dan ketrampilan yang anda miliki, pengetahuan dan ketrampilan komunikasi termasuk di antara yang paling penting dan berguna. Karena ruang lingkup komunikasi meliputi komunkasi dengan diri sendiri, dengan orang lain, komunikasi kelompok dan komunikasi yang lain” .J.A Devito,1997.
Perkembangan emosi seorang anak dapat maju atau mundur sangat ditentukan oleh komunikasi. Sebab komunikasi yang efektif berdampak menyenangkan emosi dan menyebarkan energi positif, dengan demikian otak akan mampu menyerap lebih banyak informasi , dan pada akhirnya mampu membangun kepribadian positif
Keberhasilan dalam
Komunikasi sangat ditentukan oleh beberapa hal seperti ide atau gagasan yang jelas ,komunikator/
penerima, pesan yang jelas, media yang tepat, strategi yang sesuai , memberikan
persepsi yang seragam, dan panca indra komuniken/penerima pesan yang
baik.
Komunikasi bisa disampaikan secara
verbal dan non verbal. Komunikasi
nonverbal bisa mencakup semua jenis ekspresi emosional, tindakan, bahasa tubuh.
Dengan membentuk
komunikasi yang baik, diharapkan anak-anak juga akhirnya dapat mengungkapkan
pikiran dengan cara yang lebih baik. Komunikasi yang terbuka dan
bijaksana
dengan anak
adalah fondasi untuk menjadi orang tua yang baik. Sayangnya tidak semua
orang tua tahu bagaimana cara berkomunikasi yang efektif
dengan anak
mereka.
Pengembang
konsep Emotional Questions/EQ Peter dan Salovey, dan Daniel Goleman pada
mulanya menyebut 5 dimensi guna mengembangkan kecerdasan emosi yaitu :
Penyadaran Diri, Mengelola Emosi, Motivasi Diri, Empati dan Ketrampilan Sosial.
Dalam hal berkomunikasi dengan anak-anak, Orang tua bisa mengembangkan
kecerdasan emosi dengan melibatkan ke lima dimensi tersebut, agar tujuan
terbangunnya pemahaman informasi, pengenalan dan pengelolaan emosi diri,
hubungan/relasi yang kuat dan membangun empati bisa tercapai, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
antara lain :
a. Fokuskan
perhatian pada anak. Memfokuskan
perhatian pada anak adalah suatu bentuk “empati” orang tua terhadap anak. Pada
saat anak mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian sepenuhnya pada
ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan perhatian sejenak
dari kesibukan kita, kemudian tataplah langsung di matanya sambil memberi kesan
bahwa kita benar-benar siap memperhatikan ceritanya, dan mendorongnya untuk
bercerita.
b. Mendengar
aktif (empatik). Allah
SWT memberikan kepada kita dua telinga untuk mendengar dan satu mulut untuk
berbicara, untuk itu kita memang diharuskan banyak mendengar dahulu baru
berbicara. Menurut
Kak Seto, dalam penelitian orang dewasa khususnya orang tua biasanya berbicara
tujuh kali dan mendengar satu kali. “Ini harus dibalik menjadi berbicara satu
kali dan mendengar tujuh kali. Karena pada dasarnya anak itu selalu ingin
didengarkan,”
c. Menyela/menginterupsi.
Ketika
anak-anak sedang berbicara, tahanlah
untuk tidak menyela atau menginterupsi. Setelah anak selesai bercerita
sebaiknya kita memberi feed back/umpan balik, jika perlu mengulang ceritanya
agar ada pengertian yang sama dengan anak. Mendorong anak-anak untuk bercerita
bisa membantu anak-anak melepaskan emosi negative dan membuatnya nyaman.
d. Menggali
pendapat anak terhadap masalah. Untuk mengasah kecerdasan anak
mengenali permasalahan yang sedang dihadapi ada baiknya kita menggali pendapat
mereka dengan berbagai pertanyaan. Sebagai orang tua, kita sebaiknya
menghindari penilaian subyektifitas terhadap anak, sebab penilaian subyektif
apalagi apresiasi negative anak akan
menarik diri untuk tidak menceritakan
kejadian yang sebenarnya. Selain itu
sebaiknya kita hindari memaksakan pendapat, lebih baik memberikan
bimbingan dengan pertanyaan-pertanyaan, agar anak semakin memahami kejadian
yang mereka alami, informasi dari teman dengan melibatkan perasaannya.
e. Semangati Anak untuk Bercerita. Hanya
dengan memberi respon “O ya? atau “Wow!…” atau “waaah
Subhanallah..” dapat menjadi stimulasi bagi anak-anak untuk makin giat
bercerita. Pola ini dapat membuat anak tenang dan nyaman karena merasa orang
dewasa disekitarnya memahami apa yang mereka ungkapkan.
f. Jika Anak sedang Emosi, Tunggu reda
emosi anak.
Jika anak sedang emosi, kita tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita
pun makin tidak sabar untuk tidak memberikan opini kita padanya. Berikan
waktu pada anak untuk menyendiri/diam sampai intensitas perasaannya mereda.
Ketika emosinya mereda, anak akan lebih siap untuk diajak bicara atau menerima
informasi yang akan kita sampaikan.
g.
Hindari Kalimat Negatif dan Berkesan Mendikte Anak. Tanpa disadari seringkali orang tua memberi komentar
negatif/menyerang perilaku anak, memberi label buruk, terlalu banyak memberi
ceramah bahkan menghakimi sikap anak. Ketika sedang berkomunikasi dengan anak
sebaiknya kita hindari sikap seperti itu.
h. Perhatikan
Bahasa Tubuh Saat Berkomunikasi dengan Anak. Jika berbicara secara
personal dengan anak, maka posisikan tubuh kita sejajar dengan anak (jika perlu berjongkoklah agar tinggi badan kita
membuat anak nyaman). Saat kita berkomunikasi dengan anak, perhatikanlah
bahasa tubuh yang kita gunakan. Menjaga expresi wajah agar tetap ceria , adalah
bagian dari komunikasi non verbal, dsamping itu menjaga menjaga
nada/intonasi suara juga penting. Ketika
apa yang kita katakan bertentang dengan apa yang kita lakukan atau bertentangan
dengan bahasa tubuh kita, maka kecenderungan salah faham dan kebingungan akan
mudah terjadi.
i.
Berbicaralah dengan Bahasa yang Mudah Dipahami Anak. Hindari
istilah-istilah yang terlalu berat bagi anak, atau kata-kata yang terlalu kaku
(baku). Namun harus digarisbawahi bahwa berbicara dengan bahasa anak tidak
berarti jika anak mengalami kesalahan dalam pelafalan kata (misal: cadel)
maka orang dewasa pun mengikutinya.
Oleh : Liliek Heksa, ST

Komentar
Posting Komentar