Takaran Allah
Alma,
Sahabat saya, akhir-akhir ini sering tidak datang pada majelis pengajian
sebagaimana biasanya. Sebagai seorang
sahabat, saya menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Alma bercerita bahwa, putrinya sakit, sudah banyak
upaya yang dia lakukan untuk kesembuhan putrinya, kini putrinya sudah berangsur
membaik, tetapi kakaknya tiba-tiba sakit. Sakit yang mendadak dan dokter masih mendiagnosa sakit anaknya
tersebut. Kalau dihitung-hitung sudah
tiga bulan berjalan, Alma keluar masuk Rumah Sakit. Namun raut wajahnya tidak tampak susah atau
sedih. Biasa-biasa saja. Bahkan selalu tersenyum ketika menceritakan kondisi
anaknya, meskipun sesekali diselingi linangan air mata.
Setelah
melihat kondisi sahabat saya itu, saya mengajak sahabat saya yang lain, satu
majelis, untuk membezuk anak-anak Alma.
Sekedar untuk memberi motivasi
dan semangat, bahwa kami semua menyayangi Alma dan anak-anaknya. Kami berdelapan orang, sepakat untuk
mengunjungi Alma. Tidak ada yang luar biasa mengusik hati saya sampai saya
mendengarkan percakapan dua sahabat saya
dalam perjalan pulang dari rumah Alma.
“Kenapa ya, koq Alma terus terusan dapat musibah saperti ini? Padahal kalau kita lihat kan dia rajin
ibadahnya, rajin puasa Senin Kamis,malah lebih rajin dari kita semua. Beberapa waktu lalu, suaminya juga sakit,
komplikasi, lama juga tidak kunjung sembuh, eh sekarang anak-anaknya. Dosa apa ya yang pernah dilakukan Alma
sehingga diberi ujian seperti ini?”
Sahabat saya yang lain menimpali “ Iya ya? Atau dia kurang sedekah? Kan
sedekah bisa menjauhkan kita dari musibah?
Atau dalam hartanya ada yang kotor?
Kan memang pekerjaan suaminya rawan untuk mendapatkan uang sampingan?” Panjang lebar dua teman saya itu menganalisa
sebab musabab musibah yang menimpa Alma berturut-turut.
Begitulah
manusia, lebih mudah untuk menilai orang lain, daripada mengukur diri
sendiri. Seberapa hebatkah kita,
sehingga begitu mudah kita merasa diri lebih hebat, lebih beruntung, dan lebih
disayang Allah daripada yang lain.
Manusia tetaplah manusia dengan banyak ketidaksempurnaannya.
Sehingga
sungguh keterlaluan, seandainya ada yang menganggap bahwa dirinya lebih
beruntung dan lebih sukses daripada yang lain.
Ukuran yang ditetapkan manusia sangat berbeda dengan ukuran yang
ditetapkan Allah SWT.
Ketika manusia melihat seseorang lebih beruntung diukur dari sisi karier, jabatan, anak-anak yang sudah sukses atau kekayaan, maka ukuran Allah mungkin dari sisi yang lain, misalnya sejauh mana kerendahan hati yang bersangkutan ketika menerima semua ketentuanNya, atau sejauh mana dia bisa berbagi dan memberi manfaat kepada orang lain.
Hal
yang sama juga berlaku ketika seseorang menilai orang lain. Mudah sekali rasanya menilai dan melihat
kejelekan orang lain daripada melihat dan menilai yang baik dari
seseorang. Padahal manusia hanya
mejalankan apa yang sudah digariskanNya, dengan penuh
syukur atau dengan penuh kufur?
Kita,
manusia hanya sekedar menerima. Susah
atau senang, Allah yang menentukan, tinggal bagaimana kita menyikapi semua
pemberianNya. Adanya orang lain yang
hadir dalam kehidupan kita adalah ujian bagi kita juga. Betapapun jalan yang telah ia lalui, bukan kita
yang pantas menilai ia baik atau buruk.
Hanya Allah yang berhak menilai, dan waktu yang akan membuktikan
bagaimana kesudahannya.
Rasulullah
SAW bersabda:
Sesungguhnya Jibril diberi
tugas untuk mengurus segala keperluan anak Adam. Jika seorang hamba yang kafir berdo’a, Allah
SWT berfirman kepada Jibril “Hai Jibril,
tunaikan keperluannya. Sesungguhnya Aku
tidak senang mendengar
permintaannya”. Dan jika seorang
hamba yang mukmin berdo’a, Allah SWT
bwerfirman kepada Jibril “Wahai Jibril,
jangan kau tunaikan dulu keperluannya, sebab Aku senang mendengar
permohonannya”
(HR. Ibnu An Najjar dari
Jabir RA)
Wallaahu
a’lam bishowab.
Oleh : Ustadzah Umi Nahariyah, S.S. (Guru SD Al-Ikhlash Lumajang)
Komentar
Posting Komentar