NEWS
Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang berduka. Setelah ketuanya, Antasari Azhar menjadi tersangka kasus pembunuhan, kini dua pimpinan lainnya juga menjadi tersangka. Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri atas tuduhan penyalahgunaan wewenang.
Bagaimana masa depan lembaga antikorupsi ini? Apakah pemberantasan korupsi menjadi melempem lantaran tinggal dua lagi pimpinan KPK yang ada? Yang jelas, para pegawai KPK kini resah dan kecewa.
"Kita kecewa, jelas kecewa, kita semua pegawai kecewa," ujar Juru Bicara KPK Johan Budi SP dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (16/9/2009) dini hari tadi.
Penetapan tersangka terhadap Chandra dan Bibit sungguh di luar dugaan. Pada Selasa 15 September sore, Bibit masih berencana untuk ikut buka puasa yang digelar oleh Mabes Polri. Presiden SBY juga ada di acara itu. Namun, lantaran pemeriksaan dilakukan secara maraton, akhirnya niat itu urung.
"Pagi kita berangkat diantar oleh komunitas cicak, kemudian jam 4 sore berhenti (diperiksa). Dan statusnya saat itu masih sebagai saksi. Makanya saya berani mengatakan bahwa Pak Bibit akan menghadiri buka puasa di Mabes," cerita Johan.
Dukungan terhadap KPK datang dari Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM. Tanpa ketiga komisionernya, KPK diyakini mampu melakukan kerja-kerja pemberantasan korupsi.
"Kalau mereka tetap bekerja mereka tidak akan terganggu. Karena yang di lapangan kan penyidik. Mereka pengambil keputusan tertinggi," ujar Direktur Pukat UGM Zainal Arifin Muchtar kepada detikcom, Rabu (16/9/2009) pagi.
"UU tak wajibkan harus 5, tapi harusnya kolektif. Artinya kumpulan kelembagaan, bukan kumpulan orang," papar pria yang akrab disama Ucheng tersebut.
Bagi Ucheng, pemberantasan korupsi harus terus digalakkan meski para petinggi KPK sedang mengalami pesakitan. (anw/mpr)
Bagaimana masa depan lembaga antikorupsi ini? Apakah pemberantasan korupsi menjadi melempem lantaran tinggal dua lagi pimpinan KPK yang ada? Yang jelas, para pegawai KPK kini resah dan kecewa.
"Kita kecewa, jelas kecewa, kita semua pegawai kecewa," ujar Juru Bicara KPK Johan Budi SP dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (16/9/2009) dini hari tadi.
Penetapan tersangka terhadap Chandra dan Bibit sungguh di luar dugaan. Pada Selasa 15 September sore, Bibit masih berencana untuk ikut buka puasa yang digelar oleh Mabes Polri. Presiden SBY juga ada di acara itu. Namun, lantaran pemeriksaan dilakukan secara maraton, akhirnya niat itu urung.
"Pagi kita berangkat diantar oleh komunitas cicak, kemudian jam 4 sore berhenti (diperiksa). Dan statusnya saat itu masih sebagai saksi. Makanya saya berani mengatakan bahwa Pak Bibit akan menghadiri buka puasa di Mabes," cerita Johan.
Dukungan terhadap KPK datang dari Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM. Tanpa ketiga komisionernya, KPK diyakini mampu melakukan kerja-kerja pemberantasan korupsi.
"Kalau mereka tetap bekerja mereka tidak akan terganggu. Karena yang di lapangan kan penyidik. Mereka pengambil keputusan tertinggi," ujar Direktur Pukat UGM Zainal Arifin Muchtar kepada detikcom, Rabu (16/9/2009) pagi.
"UU tak wajibkan harus 5, tapi harusnya kolektif. Artinya kumpulan kelembagaan, bukan kumpulan orang," papar pria yang akrab disama Ucheng tersebut.
Bagi Ucheng, pemberantasan korupsi harus terus digalakkan meski para petinggi KPK sedang mengalami pesakitan. (anw/mpr)
Cicak VS Buaya...??? Kwek..bakal siapa pemenangnya..? pastinya rakyat dukung pasukan cicak nih..
BalasHapus